The satisfying math of folding origami - Evan Zodl

The satisfying math of folding origami - Evan Zodl

SUBTITLE'S INFO:

Language: Indonesian

Type: Human

Number of phrases: 79

Number of words: 621

Number of symbols: 3726

DOWNLOAD SUBTITLES:

DOWNLOAD AUDIO AND VIDEO:

SUBTITLES:

Subtitles prepared by human
00:00
Translator: Athira Rizka Reviewer: Maria Nainggolan Saat teleskop luar angkasa bersiap untuk mengambil foto, cahaya bintang di dekatnya menghalangi pandangannya. Tapi teleskop ini memiliki trik rahasia: sebuah perisai raksasa untuk memblokir kilau. Tameng bintang ini memiliki diameter sekitar 35 meter— yang terlipat menjadi kurang dari 2,5 meter, cukup kecil untuk dibawa di ujung roket. Desainnya yang ringkas didasarkan pada bentuk seni kuno. Origami, yang secara harfiah diterjemahkan menjadi “melipat kertas”, adalah praktik Jepang sejak setidaknya abad ke-17. Dalam origami, konsep sederhana yang sama menghasilkan segalanya dari kertas bangau dengan sekitar 20 langkah, naga ini dengan lebih dari 1.000 langkah, hingga tameng bintang. Satu lembar kertas persegi tradisional
01:01
dapat diubah menjadi hampir semua bentuk, hanya dengan melipat. Buka lembaran itu, dan ada pola garis, yang mewakili lipatan lembah cekung atau lipatan gunung cembung. Seniman origami mengatur lipatan ini untuk membuat pola lipatan, yang berfungsi sebagai denah untuk desain mereka. Meskipun kebanyakan model origami adalah tiga dimensi, pola lipatan mereka biasanya dirancang untuk terlipat datar tanpa menimbulkan lipatan baru atau memotong kertas. Aturan matematika di balik pola lipatan datar yang dapat dilipat jauh lebih sederhana dibanding balikan pola lipatan 3D— lebih mudah untuk membuat desain 2D abstrak dan kemudian membentuknya menjadi bentuk 3D. Ada empat aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pola lipatan datar yang dilipat. Pertama, pola lipatan harus bisa berwarna dua— artinya area di antara lipatan dapat diisi dengan dua warna sehingga area dengan warna yang sama tidak pernah bersentuhan.
02:05
Tambahkan lipatan lain di sini, dan pola lipatan tidak lagi menampilkan dua warna. Kedua, jumlah lipatan gunung dan lembah pada setiap simpul interior harus berbeda persis dua— seperti tiga lipatan lembah dan satu lipatan gunung yang bertemu di sini. Lihat lebih dekat apa yang terjadi ketika kita membuat lipatan di titik ini. Jika kita menambah lipatan gunung di titik ini, ada tiga lembah dan dua gunung. Jika itu lembah, ada empat lembah dan satu gunung. Bagaimanapun, modelnya tidak jatuh datar. Aturan ketiga adalah jika kita memberi nomor pada semua sudut titik dalam yang bergerak searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam, sudut genap harus berjumlah 180 derajat, seperti halnya sudut-sudut berjumlah ganjil. Melihat lebih dekat pada lipatannya, kita bisa melihat alasannya. Jika kita menambahkan lipatan dan angka pada sudut-sudut baru pada simpul ini, sudut genap dan ganjil tidak lagi berjumlah 180 derajat,
03:11
dan modelnya tidak terlipat rata. Terakhir, lapisan tidak dapat menembus lipatan. Dasar 2D yang dapat dilipat rata sering kali merupakan representasi abstrak dari bentuk 3D akhir. Memahami hubungan antara pola lipatan, dasar 2D, dan bentuk akhir 3D memungkinkan seniman origami untuk merancang bentuk yang sangat kompleks. Contohnya pola lipatan ini oleh seniman origami Robert J. Lang. Pola lipatannya mengalokasikan area untuk kakinya, ekor, dan pelengkap lainnya. Saat kita melipat pola lipatan menjadi dasar datar ini, masing-masing area yang dialokasikan ini menjadi lipatan terpisah. Dengan mempersempit, menekuk, dan memahat lipatan ini dasar 2D menjadi kalajengking 3D. Sekarang, bagaimana jika kita ingin melipat 7 bunga ini dari selembar kertas yang sama? Jika kita dapat menduplikasi pola lipatan bunganya dan menghubungkan mereka sedemikian rupa sehingga keempat hukum terpenuhi,
04:15
kita dapat membuat teselasi, atau pola bentuk yang berulang yang menutupi sebuah bidang tanpa celah atau tumpang tindih. Kemampuan untuk melipat permukaan yang besar menjadi bentuk yang padat memiliki penerapan untuk luasnya angkasa hingga ke dunia mikroskopis sel kita. Menggunakan prinsip origami, Rekayasa medis telah membayangkan kembali cangkok stent tradisional, tabung yang digunakan untuk membuka dan menopang pembuluh darah yang rusak. Melalui teselasi, struktur tabung yang kaku terlipat menjadi lembaran padat sekitar setengah ukurannya ketika dikembangkan. Prinsip origami telah digunakan dalam kantong udara, jajaran tenaga surya, robot lipat sendiri, dan bahkan struktur nano DNA— siapa yang tahu kemungkinan apa yang akan terungkap selanjutnya.

DOWNLOAD SUBTITLES: