【FULL】Crush EP04 (Starring Evan Lin Yanjun, Wan Peng) | 原来我很爱你 | iQiyi

【FULL】Crush EP04 (Starring Evan Lin Yanjun, Wan Peng) | 原来我很爱你 | iQiyi

SUBTITLE'S INFO:

Language: Indonesian

Type: Human

Number of phrases: 483

Number of words: 2239

Number of symbols: 12549

DOWNLOAD SUBTITLES:

DOWNLOAD AUDIO AND VIDEO:

SUBTITLES:

Subtitles prepared by human
00:05
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Crush] [Episode 4] Aku tidak minum minuman bersoda. Tadi itu otakku hanya berperilaku abnormal. Namun, mengertilah diriku. Jika mereka percaya hal yang kukatakan. kita akan bisa meneruskan hidup. Kau juga berkontribusi dalam hubungan yang baik ini. Jasamu akan sangat dihargai. Aku tak membutuhkannya. Kau menangisi apa? Itu hanya akting. Apakah aku terlihat tulus? Jujurlah. Aku dan pria itu sudah saling mengenal dari kecil. Ayahku dan ayahnya adalah rekan kerja. Kami tinggal di satu gedung. Sejak kecil kami bermain bersama. Sedangkan Xu Qian? Sejak SMA kelas dua, dia pindah ke kelas kami. Saat pertama kali melihatnya, aku langsung mengaguminya. Bukankah dia terlalu cantik? Kulitnya putih dan dia langsing. Tapi, dia sangat dingin. Di bulan pertama, kami sebangku. Kami sama sekali tidak mengobrol. Tapi sejak ujian musik... Bu. Tenggorokan Sang Wu Yan sedang serak, tak bisa bicara.
04:17
Kalau begitu... Sang Wu Yan, lain kali saja ikut ujiannya. Terima kasih. Kemudian kami menjadi teman baik. Kami selalu menghabiskan waktu bersama setelah sekolah. Xu Qian suka mendengarkan radio. Jadi, kami selalu mendengarkan radio bersama. Karena itu, aku juga menyukai radio. [Halo semuanya.] [Terima kasih semuanya telah mendengarkan siaran kami.] - [Hari ini...] - Hei. ibuku bilang malam ini orang tuamu tidak di rumah. Ibuku mengajakmu untuk makan malam di rumahku. [Mari kita membicarakan kisah di sekitar kita.] [Entah kau sedih atau senang,] [tak ada yang lebih baik dari mematikan lampu,] [memakai headphone-mu,] [dan memebenamkan dirimu dalam...] Aku ingin memperkenalkan kepadamu. Dia adalah teman baikku, Xu Qian. Tolong jaga dia. Halo, aku Wei Hao. Halo. [Permintaan Hasil Ujian Nasional dan Masuk Universitas] [Sang Wu Yan, diterima masuk Jurusan Psikologi] Benar-benar tidak ada ketegangan sama sekali. Jurusan Psikologi di Universitas Southeast. Aku telah mewujudkan mimpi orang tuaku. Rekayasa perangkat lunak? Kau akan masuk ke industri Teknik Informatika? Aku tak tahu harus belajar apa. Itu tidah penting. Yang penting aku bisa berkuliah. Jurnalistik Penyiaran. Bukankah kau ingin mendaftar jurusan keuangan? Pada akhirnya aku mengubah keputusanku. Bagus. Kau lebih bernyali daripada aku. Baiklah. [Tak ada yang berubah setelah kita kuliah.] [Aku harus bilang, aku merasa tak ada yang berubah.]
06:21
[Di tahun pertama kuliah, mereka berdua membentuk sebuah band bersama.] [Wei Hao selalu suka bermain musik.] [Suara Xu Qian sangat bagus jadi dia menjadi penyanyi utama.] [Aku tidak bisa banyak membantu.] [Tapi, akulah yang membuat nama bandnya.] "Momo" artinya Buah persik dalam bahasa Jepang... terdengar lucu sekali. Bagaimana? Aku rasa bisa. Kita mulai pemungutan suara ya. Aku juga setuju. Dua suara setuju. Tiga suara setuju. Empat suara setuju. Baiklah. Semua anggota band Momo setelah makan siang kita latihan, ya? Baiklah. Terima kasih. Apa kau sudah mencucinya? Bersulang! - Bersulang! - Bersulang! [Aku masih menganggap mereka sebagai teman terbaikku.] [Aku selalu menceritakan semuanya kepada mereka.] [Kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama.] [Pada akhirnya, aku tak bisa berada di antara mereka lagi.] [Lebih buruk, aku menjadi halangan mereka] [tanpa aku sadari.] Aneh. Itu kekananak-kanakkan. Ya, aku cukup kekanakkan. Aku hanya berpikir... jika mereka melihatku dalam hubungan baru... mungkin akan... Sang Wu Yan. Apa kau itu Buddha? Ya, benar. Aku bukan hanya Buddha... aku bersinar dengan cahaya ilahi. Apa kau ingin aku memberkatimu? Usap mulutmu. Kotor sekali. Bagaimana bisa sapu tangan sebagus ini digunakan untuk menyeka mulutku? Boros sekali.
08:48
[Yu Xiao Lu memanggil] Halo? [Nian Qin.] [Kau di mana?] [Aku sudah di pintu masuk panti asuhan.] Teruslah berjalan. Belok kanan di perempatan pertama. Lalu, belok kiri. Di sana ada restoran KFC. Tunggu aku di pintu masuknya. Kau sudah kenyang? Ayo pergi. Baiklah. Nian Qin. Ayah... Sampai jumpa di sekolah. Mengapa dia memanggilmu Ayah? Ayo pulang. Ini aneh. Penilaian Nian Qin terhadap dunia luar berasal dari bau dan suara. Dia tak menyukai tempat dengan bau yang kuat, dan lingkungan yang bising. Tapi, dia dan seorang gadis keluar dari sana. Ketika melihatnya kupikir aku salah mengira orang. Aku tanyakan kepadanya tapi dia menjadi dirinya. Tak berbicara apa pun. Dia bertanya padamu siapa Yi Jin, 'kan? Kalau begitu, pasti bukan dia orangnya. Menurut pengamatanku... jika dia bukan Yi Jin. Dia akan langsung menyangkalnya. Kau bicara seolah-olah kau ini sangat mengenalnya. Ada apa, Nona Muda? Apa kau jatuh cinta padanya? Belum sejauh itu. Lagi pula... aku adalah wanita yang sudah melihat dunia. Aku harus mengamatinya lagi. Lupakan saja. Kau tadi mengumumkan kalau dia itu pacarmu.
11:11
Aku... Itu karena... Itu karena... Itu hanya kebohongan kecil di depan Xu Qian. Itu hanya akting. Mereka berdua menyembunyikan hubungan mereka dariku. Itu yang membuatku kesal. Tapi, aku tidak ingin mereka berdua tidak bersama hanya karena diriku. Mereka saling mengenal juga karena diriku. Saat itu, untung saja Su Nian Qin ada di sana. Jadi... aku sekalian mengamatinya. Jika kau bertanya kepadaku alam sadarmu mempermainkan dirimu. Jika tidak, coba katakan apa yang kau amati? Kuberitahu ya. Hari ini aku melihat wanita itu menjemputnya lagi. Aku melihatnya lebih dekat hari ini. Hubungan mereka sangat dekat. Dan aku pikir... wanita itu sangatlah cantik. Cara bicaranya sangat lembut. Orangnya juga sangat baik. Suaranya juga bagus. Jika aku seorang pria, aku pasti menyukainya. Jadi... jika dia benar-benar Yi Jin... maka kita memiliki... berita besar yang sangat beharga. Kisah cinta penulis lagu misterius genius. Bukankah ini cukup sensasional? Astaga. Sepanjang hari ini... sebenarnya apa yang kau pikirkan? Menurutku tidak apa-apa. Benar-benar bisa jadi berita besar.
12:38
Kau gila ya! - Itu akan bekerja. - Tidak bisa. - Aku serius. - Tidak bisa. Guru Li. Ulang tahun Xiao Wei di bulan ini, 'kan? Benar. Sekolah akan memberikan hadiah... kepada anak-anak yang berulang tahun di bulan ini. Maka dia juga akan menerimanya. Aku ingin tahu bagaimana dia akan merayakan ulang tahunnya. Guru Su. Apakah kau mau merayakan ulang tahun Xiao Wei bersamaku? Apa kau ada waktu di tanggal 12? Aku akan berada di sana setelah bekerja. Ada konser yang harus kuhadiri. Kalau begitu tidak bisa. Lupakan saja. Tapi tidak apa-apa aku akan menitipkan salammu kepadanya, Wu Yan. Masuklah ke kelas ini. Cepat masuk, bel akan segera berbunyi. Baiklah. Gelas airku... Tidak apa-apa, Guru Li. Masuklah, akan kuambilkan untukmu. - Terima kasih. - Tidak masalah. Astaga! Apa kau baik-baik saja? Apakah kau terluka? Jangan bergerak biarkan aku lihat dulu. Tunggu sebentar. [Ruang Guru] [Dilarang meniru adegan ini di rumah karena ini hanya untuk kepentingan cerita]
15:34
- Apa itu? - Lidah buaya. Maaf, aku benar-benar tak bermaksud begitu. Kumohon jangan marah. Benarkah? Sungguh, aku bersumpah. [Tamatlah riwayatku.] [Aku melakukan kesalahan besar seperti ini.] [Ini tangan untuk bermain piano.] [Ternyata aroma lidah buaya seperti ini.] Tanganmu kenapa terbakar seperti itu? Saat mengambil air... aku tak sadar bahwa itu air panas, jadi aku tersiram. Ceroboh sekali. Besok, aku akan membelikanmu termos besar. Isilah air panasnya dan bawa ke sekolah. Berhentilah mengambil air sendiri. Tidak masalah. Apa kau yakin? Melihatnya lukamu saja, itu tampak menyakitkan. Xiao Lu. Bisakah kau bantu aku membelikan sewadah lidah buaya? Mengapa tiba-tiba kau... Apakah tangan Guru Su sudah lebih baik? Maafkan aku. Bukankah kau sudah pernah mengatakannya? Ini permen untukmu. Aku tidak makan makanan manis. Kalau begitu aku akan mentraktirmu makanan asin lain kali. Wu Yan. Bukankah kau tadi mencari Xiao Wei? Xiao Wei ada di sini. Baik, terima kasih. Pak Wang. Dia mencari Xiao Wei? Benar. Dia membeli banyak makanan untuk Xiao Wei. [Ruang Guru] Xiao Wei. Bu Sang. Xiao Wei, aku membelikanmu... Ada apa, Bu Sang? Kau sedang piket? Tadi mereka bermain lempar-lemparan sepatu di atas meja. Aku berniat untuk membersihkannya.
18:01
Kelas selanjutnya adalah kelas Guru Su. Guru Su suka kebersihan. Jadi aku harus cepat sebelum dia datang. Aku membersihkan area ini... agar tidak menodai pakaiannya. Xiao Wei menyukai Guru Su? Ya, Guru Su sangat lembut. Benarkah? Kenapa? Kenapa kau tak membiarkanku memberikannya? Yang mereka inginkan... hari ini bukanlah sekantong permen. Atau juga sekotak biskuit besok. Tapi dalam kemampuanku... hanya ini yang bisa kulakukan. Karena hanya ini yang bisa kau lakukan jadi, jangan lakukan apa-apa. Kau terlalu sensitif, 'kan? Aku hanya ingin dia tahu bahkan jika dia tak memiliki orang tua. Masih banyak orang yang peduli padanya dan mencintainya. Sang Wu Yan. Singkirkanlah rasa belas kasihanmu itu. Yang mereka inginkan bukanlah perhatian khususmu. Tapi, sesuatu yang lain. Kau tak akan mengerti. Aku tak mengerti? Memangnya kau siapa sehingga bisa bicara seperti itu? Karena aku juga dibesarkan di panti asuhan. [Beberapa ditinggalkan oleh orang tua mereka.] [Mereka dikirim ke sini pada usia berbeda.] [Beberapa sudah dikirimkan ke sini sejak lahir.] [Alasan umumnya karena mereka cacat sejak lahir.] Sang Wu Yan. Tolong singkirkan rasa belas kasihanmu itu. Yang mereka inginkan bukanlah perhatian khususmu. Tapi sesuatu yang lain. Kau tak akan mengerti.
21:00
Aku tidak mengerti? Lalu, memangnya kau siapa bisa bicara seperti itu? Karena aku juga dibesarkan di panti asuhan. Selamat ulang tahun, Nian Qin. Ibu membeli permen buah favoritmu. Aku sangat menyesal. Jika bukan karena masalah di rumah. Ayahmu tidak akan pernah mengirimmu ke sini sementara. Tunggulah, kami akan menjemputmu, ya? Baiklah. Maaf, Nian Qin. Ibu masih ada urusan lain. Ibu harus pergi dulu. Dalam beberapa hari, Ibu akan menemuimu. Nian Qin harus patuh. Ibu akan datang lusa. Nian Qin, kau harus berlatih piano dengan baik. Lain kali Ibu datang. Aku ingin mendengar kau memainkan lagu yang Ibu ajarkan. Halo, Guru Li. Mengapa kau membeli begitu banyak jeruk? Ini alat bantu untuk mengajar. Alat bantu mengajar? Kau akan mengetahuinya setelah ikut ke kelasku. Wu Yan. Aku pergi ke kelas. Tolong bawakan jeruknya. Periksalah, mungkin ada beberapa yang sudah hancur. Baiklah, tidak masalah. Jeruk. Dia membawa begitu banyak jeruk. Guru Su, makanlah jeruk ini. Ini bisa mendinginkanmu. Aku ke kelas dulu. Makanlah. Murid-murid. [Lentera Jeruk Kecil]
26:47
Yang akan kita pelajari hari ini... Lentera Jeruk Kecil Bing Xin. Bagaimana dengan karya ini? Ini adalah mahakarya Bing Xin. Di karya itu dijelaskan tokohku bertemu dengan seorang gadis kecil yang ibunya sakit parah. Saat berpisah... dia memberi lentera jeruk kecil. Jadi hari ini... Guru juga menyiapkan jeruk untuk kalian. Ayo kita membuat lentera jeruk kecil bersama. - Bagaimana? - Baiklah. Murid-murid, jangan khawatir. Lampu kecil Bing Xin ini mewakili keinginan akan cahaya. Pertanyaan ini pasti akan keluar saat ujian. Jadi, Pak Guru berjanji. Setelah menuliskan jawabannya... kalian bisa makan jeruknya. Mengerti? Baiklah. Guru Wu. Apakah Guru Su sudah pergi? Dia baru saja pergi. Dia mengatakan sesuatu terjadi dan meminta cuti. Terima kasih. Ini aku. Tidak apa-apa, hujannya tidak deras. Aku juga tidak apa-apa. Diam sebentar. Aku akan menemanimu menunggu sebentar. Ini sapu tanganmu kukembalikan. Kau lap dulu bagian yang basah. [Sebenarnya aku tak ingin mengembalikannya.] [Aku sudah tak punya kesempatan untuk berbicara dengannya.] ♫ Tidak banyak yang perlu dikatakan ♫ ♫ Aku telah menunggu untuk sesuatu♫ ♫ Itu semua tertulis diantara bintang-bintang ♫ ♫ Ada suara di telingaku ♫ ♫ Yang mana selalu menemaniku ♫
30:30
♫ Karena itulah aku tidak lagi takut pada matahari tenggelam♫ ♫ Cahaya matahari menghujani tubuhku ♫ ♫ Jatuh di bahu ♫ ♫ Tiba-tiba aku teringat sesuatu ♫ ♫ Sepertinya aku pernah mendengarnya ♫ ♫ Tanpa sadar ♫ ♫ Dari suaramu yang mempesona ♫ ♫ Aku mengenalimu ♫ ♫ Di detik berikutnya ♫ ♫ Kau melihat dan tersenyum padaku ♫ ♫ Kau bilang lirik itu sulit diucapkan ♫ ♫ Aku memadamkan galaksi ♫ ♫ Di gelapnya malam, secara natural ♫ ♫ Kita bergandengan tangan dan berpelukan ♫ ♫ Aku tak pernah mengungkapkan pikiranku ♫ ♫ Setelah bertemu denganmu ♫ ♫ Semuanya berubah ♫ Ternyata pohon ligustrum. ♫ Langit penuh bintang selalu di belakang kita ♫ ♫ Setelah bertemu denganmu♫ Bukan pohon holly? Tentu saja, bukan. Pohon holly dan ligustrum tidak sama. ♫ Kaulah yang aku butuhkan ♫ Bisa bantu aku memegang sebentar payungnya? ♫ Kacang merahmu ♫ ♫ Setelah bertemu denganmu♫ ♫ Bahkan angin topan bergerak lembut♫ ♫ Ketika kau di bahuku ♫
31:38
♫ Aku memikirkan untuk selamanya ♫ ♫ Tak akan melepaskanmu ♫ ♫ Bahkan jika dunia berada di luar jendela ♫ ♫ Bahkan jika gempa ♫ ♫ Selama aku menggenggam tanganmu ♫ ♫ Tak ada alasan untuk takut ♫ Yang paling mudah membedakannya daunnya saja sudah berbeda. Sentuhlah daun ini. Yang ini sangat halus. Tepi daun holly berbentuk zigzag. Iya, 'kan? Lidah buaya hari itu bentuknya juga zigzag. Benar. Kau ini sangat jeli. Mobil jemputanmu datang. Nian Qin. Terima kasih. Untuk apa kau terus memegangi daun itu? Tidak apa-apa. [Makam Li Mei Ting] Dia datang untuk mengunjungi ibunya. Tidak tahu ada apa... tapi, tiba-tiba dia berkata ingin melihat ibunya. Apa? Baiklah, aku mengerti. Aku akan mencari waktu yang pas untuk membujuknya pulang lagi. Kau juga tahu betapa keras kepalanya dia. Aku tutup dulu ya. Jadi... pada akhirnya, kau tak mau membicarkan kejadian kemarin sore. Ya, itu... Tidak. Temanmu ini sepertinya terdengar labil. Hampir sebanding dengan objek penelitian kita. Kau tidak suka belajar psikologi bukankah karena... tak mau menghadapi orang yang rumit seperti dia? Kenapa kau begitu sabar dengannya?
35:31
Itu... aku juga tidak tahu. Saat melihat punggungnya... entah bagaimana aku merasa ingin memeluknya. Tanpa sadar, begitu saja. Begitu saja. Gadisku, selamat. Tamatlah riwayatmu. Kenapa? Kau sedang jatuh cinta. Bukan. Menurut teori cinta segitiga Sternberg. Cinta harus terdiri dari gairah, keintiman, dan komitmen Aku bahkan belum berniat... untuk menyeretnya ke dalam jurang itu. [Aku hanya] [cinta pada pandangan pertama.] Guru Su, kau datang pagi sekali. Aku tak membawa pulang buku pelajaran. Sebelum kelas dimulai, aku harus bersiap dulu. Siapa yang menggambar jeruk ini? Lucu sekali. Ekspresi ini digambar sangat mirip denganmu. Aku pergi dulu. [Guru Su.] [Makanlah jeruk ini.] [Ini bisa mendinginkanmu.] [Aku ke kelas dulu.] [Makanlah.] Xiao Lu. Apakah kau melihat jeruk yang kuletakkan di sini? Aku baru saja memakannnya. Mengapa kau ikut campur urusan orang lain? Bukankah itu hanya jeruk? Aku membeli banyak jeruk dan meletakkannya di kulkas. Kau ingin makan satu? Aku akan mengambilkannya untukmu. Tidak. Bagaimana dengan kulit jeruknya? Lupakan saja.

DOWNLOAD SUBTITLES: