Karl Popper, Science, & Pseudoscience: Crash Course Philosophy #8

Karl Popper, Science, & Pseudoscience: Crash Course Philosophy #8

SUBTITLE'S INFO:

Language: Indonesian

Type: Human

Number of phrases: 129

Number of words: 1852

Number of symbols: 11017

DOWNLOAD SUBTITLES:

DOWNLOAD AUDIO AND VIDEO:

SUBTITLES:

Subtitles prepared by human
00:03
Crash Course Filosofi disponsori oleh Squarespace. Squarespace: share your passion with the world. Bayangkan kalau anda hidup ketika Albert Einstein sedang mengembangkan teori relativitasnya. Atau menyaksikan kelahiran psikologi, pada saat Sigmund Freud dan teorinya psikoanalisis mengambil alih pengetahuan ilmiah umum. Awal tahun 1900-an adalah waktu yang menakjubkan untuk pengetahuan ilmiah di negara barat. Ada satu sosok lain yang muncul di arena intelektual bersamaan pada saat dua orang pintar itu sedang bekerja. Filosofer muda bernama Karl Popper lahir di Austria - tempat asal Freud - tapi membangun karirnya di Inggris. Popper memikirkan and mempertimbangan dengan serius cara-cara baru yang dipakai oleh dua ilmuwan ini dan ilmuwan lain pada saat itu untuk berpikir tentang dunia. Dan setelah melihat metode yang berbeda yang orang-orang seperti Einstein dan Freud gunakan, Popper jadi memahami bahwa tidak semua ilmu pengetahuan itu sama. Popper akhirnya dapat membedakan antara ilmu pengetahuan (science) ... dan apa yang disebut ilmu pengetahuan palsu (pseudo-science). Dan dalam proses melakukan hal ini, Popper mengajar kita semua banyak tentang sifat dasar pengetahuan itu sendiri, dan bagaimana kita dapat menguji dan mempertanyakan, untuk mencapai kebenaran. [Theme Music]
01:07
Muncul di sekitar waktu yang sama dalam sejarah, Freud dan Einstein membuat prediksi yang mereka berharap akan membantu kita lebih memahami dunia. Freud, memikirkan tentang jiwa individual, meramalkan bahwa pengalaman masa kecil kita akan sangat mempengaruhi menjadi orang seperti apa kita saat dewasa. Pada saat yang sama, Einstein menunggu dengan sabar munculnya gerhana matahari yang bisa menyangkal seluruh teori relativitas umumnya, tergantung apa yang gerhana matahari itu ungkapkan tentang bagaimana cahaya bergerak melalui ruang. Disisi lain ada Karl Popper, lahir pada tahun 1902, dan tumbuh dewasa tepat untuk mengamati prediksi ini dengan minat. Sebagai seorang sarjana muda, dia belajar tentang teori psikoanalitik Freud, dan menghadiri ceramah yang dibawakan oleh Einstein sendiri tentang aturan alam semesta (pengetahuan alam). Dan dia melihat bahwa dua orang ini menggunakan metode/cara yang berbeda. Popper mengamati bahwa Freud bisa membuat hampir semua observasi setuju dengan teorinya. Freud bisa menjelaskan masalah intimasi seseorang dengan menjelaskan bahwa itu terjadi karena orang itu tidak cukup dipeluk waktu masih anak-anak, tapi bisa juga karena terlalu banyak dipeluk waktu kecil. Sementara itu, hampir semua perilaku perempuan itu disebabkan karena perempuan iri dengan kelamin pria. Bukti untuk mendukung teori-teori Freud kelihatan seperti bisa ditemukan di mana-mana!
02:08
Tapi Popper melihat bahwa Einstein membuat prediksi yang berbeda. Daripada menggunakan data masa lalu untuk "memprediksi" apa yang terjadi sekarang, Einstein melihat ke depan, dan memprediksi masa depan. Popper menyadari bahwa, teori Einstein benar-benar berisiko besar. Karena, jika masa depan tidak sesuai dengan prediksinya, maka teori Einstein bisa dibuktikan tidak tepat. Jika hasil gerhana matahari pada tahun 1919 berbeda, maka teori Einstein tentang relativitas umum bakal dibuktikan salah pada saat itu. Freud, di sisi lain, bisa selalu menginterpretasikan masa lalu dengan cara berbeda, untuk menjaga agar teorinya tetap dianggap benar. Tiba-tiba, Popper memahami perbedaan antara ilmu pengetahuan yang Einstein lakukan, dan apa yang Freud lakukan. Popper menyebut apa yang dilakukan oleh Freud sebagai pseudo-science (ilmu pengetahuan palsu). Jaman sekarang, apakah psikologi hari ini dianggap ilmu pengetahuan yang sebenarnya atau ilmu sosial atau ilmu jenis lain mungkin diperdebatkan. Tapi anda tidak akan menemukan banyak pemikir utama yang menganggap itu pseudo-science. Tapi hampir seratus tahun yang lalu, ketika Popper membuat kesimpulan ini, tidak ada filosofer modern lain yang benar-benar membahas apa "ilmu pengetahuan" itu sebenarnya. - Dan apa implikasi nya dalam mengejar pengetahuan. Penjelasan tradisional tentang metode ilmiah, dijelaskan pada jaman Yunani kuno bahwa, untuk melihat dunia dengan mata ilmiah adalah untuk mengamati and melihat
03:12
tanpa prasangka. Anda hanya melihat, melihat apa yang anda lihat, dan kemudian mengembangkan hipotesis berdasarkan pengamatan itu. Jika anda melihat angsa, dan anda melihat itu putih. Anda melihat angsa lain; itu putih juga. Kalau anda melihat cukup banyak angsa putih, akhirnya anda membentuk hipotesis bahwa semua angsa berwarna putih. Freud bilang bahwa ini yang dia lakukan: Mengamati hubungan - tapi bukan hubungan antara angsa dan warna, yang dia amati adalah hubungan antara fenomena manusia tertentu dan perilaku manusia. Tapi Popper berpendapat bahwa setiap orang pasti memiliki prasangka. Apakah kita mau mengakui atau tidak, kita semua punya firasat. Karena kebanyakan apa yang ingin anda amati ditentukan oleh apa yang anda peduli atau tertarik. dan karena anda peduli dan tertarik tentang sesuatu biasanya anda sudah mempunyai keyakinan atau prasangka tentang sesuatu itu. Jadi, apa yang kita tahu tentang Freud dari penjelasan ini? Popper menjadi yakin bahwa metode seperti itu, yang hanya mengkonfirmasi keyakinan dan prasangka kita adalah pseudo-science. Dan metode seperti itu dapat digunakan untuk membuktikan apa saja yang kita mau. Coba bayangkan tentang keberadaan Santa Claus. Jika saya mencoba untuk menemukan bukti keberadaan Santa Claus, saya akan menemukannya dengan mudah dengan cara ini. Dunia ini penuh dengan bukti bahwa Santa Claus benar benar ada! Ada hadiah di bawah pohon Natal pada pagi hari Natal. Ada Santa Claus di mall. Dan ada
04:15
semua lagu-lagu dan cerita dan acara tv dan film tentang Santa Claus - semua itu bisa digabungkan untuk mengkonfirmasi keyakinan anda bahwa Santa Claus benar benar ada. Tapi Popper berpendapat bahwa hanya dengan mencari bukti untuk menyangkal keberadaan Santa, Anda bisa menunjukkan ketidaknyataan nya. Yang harus kita pikirkan adalah, ketika kita mulai menguji teori, apakah kita mencari untuk mengkonfirmasi teori itu, atau untuk menyangkal teori itu? Ini adalah kuncinya, untuk Popper - ilmu pengetahuan yang benar bakal berusaha untuk menyangkal teori nya sendiri, sementara ilmu pengetahuan palsu (pseudo-science) berusaha untuk mengkonfirmasi atau membenarkan teorinya Dia menguraikan pandangan ini dengan membentuk serangkaian kesimpulan tentang ilmu dan pengetahuan. Pertama, Popper berkata bahwa sangat mudah untuk menemukan konfirmasi teori jika anda mencari. Ingat tentang hadiah di bawah pohon Natal? Jika anda sedang mencari bukti bahwa Santa ada, anda cenderung untuk berhenti mencari bukti bukti lain yang bisa menyangkal keberadaan Santa Claus setelah menemukan hadiah dibawah pohon natal itu. Kedua, konfirmasi hanya berarti jika datang dari prediksi yang berisiko - prediksi yang benar-benar bisa menghancurkan teori anda. Karena Popper mengamati bahwa semua teori ilmiah yang baik harus dapat dibuktikan salah. Hal ini mungkin terdengar aneh, karena tidak ada yang orang yang mau dibuktikan salah, tapi Popper mengatakan bahwa setiap kali kita menemukan kesalahan kita itu semakin baik karena itu berarti kita semakin dekat dengan kebenaran dan hanya percaya apa yang benar. Berikutnya, Popper berpendapat bahwa tes teori yang benar adalah tes yang berusaha untuk menemukan kesalahan dari teori itu.
05:19
Jadi, jika anda mengetes keberadaan Santa Claus, anda harus berusaha untuk membuktikan bahwa Santa Claus itu tidak ada. bukannya membuktikan bahwa dia ada. Anda bisa berjaga dan menunggu sepanjang malam untuk menangkapnya pada saat dia datang untuk mengantar hadiah. Ini berisiko, karena jika orang yang benar-benar muncul untuk menempatkan hadiah di bawah pohon natal adalah ayah anda, maka anda telah menghancurkan hipotesis anda tentang Santa. Popper juga menunjukkan bahwa teori yang tidak bisa dibantah/disangkal itu bukan teori ilmiah yang baik. Jika sebuah teori tidak dapat diuji atau dites, maka teori itu tidak berarti. Contohnya, anda hanya bisa mengkonfirmasikan keberadaan Santa kalau anda sudah melakukan segala cara untuk membuktikan bahwa dia tidak nyata tapi gagal untuk membuktikan bahwa dia tidak nyata. Jadi anda perlu menarik-narik jenggot Santa di mall untuk melihat kalau itu asli atau tidak. Anda perlu menyelidiki laporan dari orang orang yang bilang pernah melihat Santa, dan laporan tentang orang aneh lain yang tertangkap masuk ke rumah-rumah penduduk melalui cerobong asap. Jika anda ingin benar-benar percaya bahwa Santa itu ada, dalam cara ilmiah yang benar, anda harus menguji keyakinan anda dan mau mengetes kepercayaan dan teori anda. Popper mengatakan bahwa hanya dengan cara itulah anda bisa bilang kalau teori anda adalah teori ilmiah yang baik. Popper juga berkata bahwa setelah anda membuktikan bahwa teori atau kepercayaan anda salah, anda harus mau menyerah dan mengakui bahwa teori itu salah. Anda masih dapat tetap percaya kalau Santa itu ada, bahkan setelah mengetahui kalau ayah anda yang manaruh hadiah di bawah pohon,
06:21
dan menerima kebohongan bahwa ayah anda hanya membantu Santa Tapi, jika anda seorang ilmuwan yang baik, anda harus bersedia untuk mengakui bahwa keyakinan anda salah dan membuang keyakinan yang salah itu. Terima buktinya dan mencoba untuk mengetes teori yang lain. Dan ini adalah pemikiran ilmiah modern yang kita terima dan gunakan hari ini: dapat diuji/dites, dapat dibantah/disangkal, dapat dibuktikan salah. Kita tidak berusaha untuk membuktikan hipotesis ilmiah benar, kita membuktikan bahwa itu salah. Anda mungkin berpikir bahwa semua ini sangat kentara dan jelas dan anda mungkin heran mengapa kita masih membahas soal ini. Tapi justru karena betapa benarnya apa yang dikatakan Popper - dia adalah salah satu filosofer langka yang benar-benar berhasil mengemukakan ide yang begitu benar sehingga kita tidak berdebat tentang hal itu lagi. Sampai saat ini saya telah berbicara terutama hanya tentang ilmu pengetahuan ilmiah. Tapi Popper dan wawasannya sebenarnya memberitahu kita banyak tentang pengetahuan pada dasarnya, dalam arti filosofi. Untuk Popper, pengetahuan adalah kemungkinan dan ketergantungan (keyakinanmu harus tergantung pada hasil tes). Kita bisa percaya pada apa pun yang tampaknya paling mungkin benar pada saat ini berdasarkan hasil tes saat ini. Tapi kita harus selalu bersedia untuk merubah keyakinan kita kalau ada bukti baru yang menyangkal keyakinan kita itu atau membuktikan keyakinan kita itu salah. Dengan kata lain, keyakinan kita harus selalu bergantung pada data yang kita dapatkan setelah melakukan tes untuk menguji keyakinan kita. Descartes (filosofer lain) tidak puas dengan penjelasan ini karena dia selalu khawatir tentang kepastian. Tapi Popper tidak pernah berpikir bahwa kepastian itu ada.
07:25
Popper berpikir bahwa kalau kita pikir kita tahu pasti tentang keyakinan kita itu menyebabkan kita menutup pikiran dan itu sesuatu yang tidak kita inginkan. Selalu mempunyai pikiran yang terbuka pada kemungkinan bahwa kepercayaan atau keyakinan kita mungkin salah adalah cara terbaik untuk mencapai kebenaran. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Ingatlah bahwa pertama tama kita mencoba untuk membuktikan kita tahu hal-hal yang kita pikir kita tahu. Tapi kita harus terbuka pada kemungkinan bahwa keyakinan atau kepercayaan anda mungkin tidar benar - karena itulah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa keyakinan kita berarti. Jika tidak, kita semua hanya percaya apa pun yang kita inginkan, tanpa bisa membedakan kepercayaan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Anda harus ingat itu, karena itulah dasar dari diskusi kita dalam seri ini. Anda hanya bisa percaya hal-hal yang anda punya alasan untuk mempercayainya, dan kita akan mulai dengan pokok persoalan yang paling sulit bagi kebanyakan orang yaitu Tuhan di episode berikutnya. Hari ini Anda belajar tentang Karl Popper, dan wawasan ilmu pengetahuan ilmiahnya, ilmu pengetahuan palsu (pseudo-science) dan pengetahuan - yang bisa diringkas: ilmu pengetahuan yang baik berusaha menyangkal keyakinan kita sedangkan ilmu pengetahuan yang palsu hanya berusaha mencari hal hal yang bisa mengkonfirmasi keyakinan kita. episode Crash Course Filosofi disponsori oleh Squarespace. Squarespace adalah cara untuk membuat website, blog atau toko online untuk anda dan ide-ide anda. Squarespace features a user-friendly interface, custom templates and 24/7 customer support. Try Squarespace
08:26
at squarespace.com/crashcourse for a special offer. Crash Course Philosophy is produced in association with PBS Digital Studios. You can head over to their channel to check out amazing shows like Artrageous, The Good Stuff, and Blank on Blank. This episode of Crash Course was filmed in the Doctor Cheryl C. Kinney Crash Course Studio with the help of these awesome people and our equally fantastic graphics team is Thought Cafe.

DOWNLOAD SUBTITLES: